Tampilkan postingan dengan label Karomah Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karomah Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2015

Harta Waris (Memang) Tidak Sama

Kisah menakjubkan tentang kecerdasan Imam Syafi`i.


Dikisahkan bahwa terdapat sekelompok ulama yang memendam rasa dengki kepada Imam Syafi`i, mereka bersiasat untuk melakukan tipu daya kepada Imam Syafi`i. Akhirnya mereka berkumpul di suatu tempat untuk mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan dalam masalah fikih dan akidah untuk menguji sejauh mana kecerdasan Imam Syafi`i.


Akhirnya para ulama itu bertemu dengan Imam Syafi`i di dalam sebuah kesempatan yang dihadiri oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan mereka menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka persiapkan sebelumnya.


Mereka bertanya, “Dua orang muslim yang berakal meminum minuman keras, kenapa hanya satu di antara mereka yang mendapatkan hukuman sedangkan satu lagi bebas?”


Imam Syafi`i menjawab, “Yang terbebas dari hukuman itu adalah anak kecil, dan yang dihukum itu adalah anak yang telah mencapai akil balig, dewasa.”


Mereka bertanya, “Terdapat lima orang lelaki yang berzina dengan seorang wanita. Lelaki pertama mendapat hukuman pancung, yang kedua dirajam, yang ketiga hanya dicambuk seratus kali, yang keempat dicambuk lima puluh kali, dan yang terakhir tidak dihukum apa-apa. Kenapa bisa terjadi?”


Imam Syafi`i menjawab, “Lelaki yang pertama menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, yaitu zina, maka ia telah murtad dan mendapatkan hukuman pancung. Lelaki yang kedua adalah lelaki yang telah beristri, maka ia mendapat hukuman rajam. Lelaki ketiga adalah lelaki bujang, maka ia hanya mendapat hukuman cambuk seratus kali. Lelaki keempat adalah seorang budak, maka ia hanya mendapatkan setengah dari hukuman lelaki biasa. Dan lelaki yang kelima adalah orang gila, maka ia tidak mendapatkan hukuman.”


Mereka bertanya, “Ada seorang lelaki yang melaksanakan salat. Saat ia salam menoleh ke kanan, ia menceraikan istrinya. Saat ia salam menoleh ke kiri, salatnya batal. Dan saat ia menoleh ke langit ia harus membayar sebanyak seribu dirham. Bagaimana ini terjadi?”


Imam Syafi`i menjawab, “Saat ia menoleh ke kanan, ia melihat suami dari wanita yang telah ia nikahi. Saat ia menikahi wanita itu, suami wanita tadi hilang dan tidak diketahui keberadaannya. Dan ketika ia tahu bahwa lelaki itu hadir di sana maka seketika itu juga ia menceraikan istrinya itu.


Saat ia menoleh ke kiri, ia melihat terdapat najis yang menempel di bajunya, maka batal salatnya. Dan saat ia menoleh ke langit, ia melihat hilal telah muncul di langit, dan sebelumnya ia telah memiliki hutang yang harus dibayar ketika awal bulan. Maka saat bulan baru ia wajib untuk membayar hutangnya.”


Mereka bertanya, “Terdapat seorang lelaki yang mengimami empat orang lelaki lain di dalam sebuah masjid. Kemudian datang seorang lelaki ke dalam masjid. Saat imam tadi salam pertanda selesai salat, sang Imam tadi mendapatkan hukuman pancung, dan empat orang makmum mendapatkan hukuman cambuk, dan masjid tempat mereka salat itu dihancurkan. Kenapa ini terjadi?”


Imam Syafi`i menjawab, “Lelaki yang masuk masjid tadi awalnya memiliki seorang istri yang ia titipkan di rumah saudaranya saat ia pergi ke suatu tempat. Kemudian sang imam tadi datang dan membunuh saudara lelaki tersebut dan mengklaim bahwa wanita ini adalah istri dari saudara itu, kemudian ia menikahinya. Itulah kenapa sang imam mendapatkan hukum pancung karena telah melakukan pembunuhan.


Dan saat itu empat orang makmum tadi menjadi saksi atas kejadian itu. Mereka tahu tapi tidak melakukan apa-apa, maka mereka mendapatkan hukuman cambuk.


Dan masjid itu awalnya adalah rumah dari saudara lelaki yang terbunuh tadi, yang kemudian dijadikan masjid oleh sang imam. Karena saudara itu telah mati terbunuh, maka rumah itu menjadi harta warisan yang diserahkan kepada si lelaki. Dan karena bangunan itu adalah miliknya, dan imam menjadikannya masjid tanpa seizin pemiliknya, maka masjid itu dihancurkan.”


Mereka bertanya, “Ada seseorang yang minum air dari sebuah mangkuk, ia telah meminum sebagian air itu, namun kemudian sisanya diharamkan baginya. Kenapa demikian?”


Imam Syafi`i menjawab, “Ia telah meminum air yang halal, namun kemudian ia mimisan dan darahnya masuk ke dalam sisa air di mangkuk tersebut. Tercampurlah air itu dengan darah, maka haramlah baginya untuk meminum sisa air tersebut.”


Mereka bertanya, “Ada dua orang lelaki berada di atas atap sebuah rumah, kemudian salah satu di antara mereka jatuh dan mati. Seharusnya istri lelaki yang jatuh tadi boleh dinikahi oleh temannya, namun dalam kejadian ini istri lelaki tadi haram dinikahi olehnya. Kenapa ini bisa terjadi?”


Imam Syafi`i berfikir sejenak kemudian menjawab, “Istri lelaki yang jatuh tadi adalah putri dari lelaki yang di atas atap, dan lelaki yang di atap itu adalah budak dari lelaki yang jatuh tadi. Saat lelaki tadi jatuh, istrinya yang sebelumnya adalah budak menjadi merdeka karena kematian suaminya. Karena ia merdeka maka ia memiliki harta warisan dari suaminya, dan salah satu harta warisannya adalah budak tadi yang merupakan orang tua dari wanita itu. Maka lelaki yang di atas atap tadi tidak boleh menikahi istri lelaki yang jatuh tadi, karena wanita itu sudah menjadi tuannya.”


Sampai sini Harun al-Rasyid yang saat itu hadir tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya terhadap kecerdasan Imam Syafi`i. Ia pun berkata, “Kamu telah menjelaskan dan penjelasanmu sangat bagus. Kamu telah menjelaskan dengan lisanmu, dan lisanmu sangat fasih. Kamu telah memberikan pencerahan, dan pencerahanmu sangat mengena.”


Lalu Imam Syafi`i menjawab, “Semoga Allah memanjangkan umurmu wahai Khalifah. Saya hendak memberikan satu pertanyaan kepada para ulama ini. Jika mereka bisa menjawabnya maka aku bersyukur kepada Allah, dan jika mereka tidak bisa menjawabnya maka aku meminta kepadamu agar melindungiku dari keburukan mereka.”


Harun al-Rasyid menjawab, “Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau. Silahkan ajukan pertanyaan sesukamu!”


Imam Syafi`i berkata, “Seorang lelaki mati dan meninggalkan harta sebanyak 600 dirham. Dan adik kandungnya yang wanita hanya mendapatkan satu dirham dari harta warisan itu. Bagaimana ini bisa terjadi?”


Para ulama tersebut saling melihat satu sama lain dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tadi. Setelah melihat waktu yang lama dalam diam, Harun al-Rasyid memintanya untuk memberikan jawaban.


Imam Syafi`i menjawab, “Lelaki ini mati meninggalkan dua orang anak perempuan, seorang ibu, seorang istri, dua belas saudara kandung dan satu orang adik kandung perempuan. Dua anak perempuan ini mendapatkan 2/3 harta yaitu 400 dirham. Ibunya mendapatkan 1/6 harta yaitu 100 dirham. Istrinya mendapatkan 1/8 harta yaitu 75 dirham. Sisanya adalah 25 dirham, 12 orang lelaki itu mendapatkan dua kali bagian perempuan, maka mereka mendapatkan 24 dirham. Maka sisanya hanya satu dirham diberikan kepada adik kandung perempuan itu.”


Maka Harun al-Rasyid tersenyum dan memberinya hadian seribu dirham. Kemudian Imam Syafi`i menerimanya dan membagikannya kepada para pembantu di istana.


Semoga Allah merahmati Imam Syafi`i dan mengumpulkannya bersama para orang saleh di surga kelak. Amin.







Sabtu, 14 Februari 2015

Seandainya Kalian Tahu Keistimewaan al Azhar

Shaikh Jamal Farouk Ad-Daqqaq Al-Hasany. Seorang ulama spesialis ilmu qiraat, yang telah lebih dari 25 kali mengkhatamkan 10 Qiraah Al-Quran kepada shaikh Abdul Hakim. Dan seorang ulama spesialis Ilmu Kalam/Tauhid. Dan yang lebih dari itu, nasab beliau berujung kepada sayyidina Hasan ra.


Satu tahun silam di Dar El-Ifta, beliau pernah berkata:

"Seandainya kalian tahu akan keistimewaan Masjid Al-Azhar, kalian akan berbondong-bondong untuk memasukinya, sekalipun dikenakan tiket Le 1000 (+/- Rp 2juta)."

Kami pun penasaran. Kemudian, kami bertanya - dengan sedikit memaksa - kepada beliau:

"Apa keistimewaannya wahai shaikh..???"

Pertanyaan itu pun kami ulang-ulang, sampai kemudian beliau menjawab: "Tempat shaikh Ahmad Dardir mengimami salat."

Salah satu dari kami pun bertanya lagi: "Di mana letaknya wahai shaikh...?"

Salah seorang teman dari Aljazair menjawab: "Di tempat shaikh Thaha Rayyan memberikan pengajian..."

Shaikh Jamal Farouq menjawab: "Iya, di sana. Dan shaikh Thaha Rayyan itu seorang yang alim dan dekat ke derajat wali..."

Dan kami pun saling berbisik dg tersenyum: "لا يعرف الولي إلا الولي"

Kemudian, beliau langsung meninggalkan kami, karena kelas tauhid kitab "Syarh shaikh Abdussalam atas Jauharat Tauhid" telah selesai untuk hari itu.

===========================
Semoga Allah swt. selalu menganugerahi beliau kesehatan dan keistaqahaman, serta kekuatan untuk menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Dakwah - Univ. Al-Azhar. Allahumma Amien. Alfatihah.

Terlebih kita semua, semoga mendapatkan berkah, hidayah, dan petunjuk jalan Allah swt. melalui Rasulullah saw. dan keluarganya ra., serta para sahabatnya ra. Allahumma amien.
وصلى الله على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

Ust. Azka Fuady
--------
Baru saja beliau, Dr. Jamal Faruq, ditunjuk menjadi Dekan Fak. Dakwah oleh pihak Rektor dan Grand Syekh al-Azhar. Semoga kemanfaatan semakin melimpah ruah. Amiin


Bermimpi Rasullullah Menyeberang Terusan Suez

Ketika Semenanjung Sinai dirampas oleh Israel pada tahun 1967 atas perang Sinai. Mesir berturut-turut mengalami kekalahan perang hingga pada puncaknya, Israel berhasil menduduki Terusan Suez. Tahun 1973, Presiden Anwar Sadat merencanakan mengambil alih kembali Terusan Suez dengan menyeberanginya meruntuhkan tembok Israel.

Namun Sadat belum mendapatkan momen tepat untuk itu. Mengingat peralatan tempur lawan lebih tangguh. Kekuatan Mesir itu bangkit ketika mendapat kabar dari Syekh Abdul Halim Mahmud mengenai mimpi beliau bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menyeberang Terusan Suez dan diikuti oleh bala tentara Mesir.

“Segera ambil keputusan perang” kata Grand Syekh al-Azhar tersebut

“Bagaimana mungkin?”

“Karena kita akan menang”

“Apa alasannya?”

“Saya bermimpi melihat Rasulullah menyeberang Terusan Suez dan bala tentara kita berada dibelakangnya”

Anwar Sadat tidak ambil lama. Ia segera memutuskan untuk perang. Meski Ramadlan, pasukan tetap harus berpuasa dan bertakwa kepada Allah. Tepat di hari kesepuluh (10) Ramadlan, tembok pertahanan Israel runtuh dihantam kekuatan militer Mesir.


note: Film dokumenter yang mengabadikannya





-Dr. Ahmad Umar Hasyim.

Jangan Baca Ihya Ulumuddin Sendirian

"Jangan baca Ihya Ulumuddin sendirian"

demikian pesan yang diterima Syaikh Mustafha Maraghi (Syaikh al-Azhar dekade 1920-an dan Ahli Tafsir terkemuka di masanya) dari Syaikh Muhammad Abduh, pesan tersebut beliau terima saat berpamitan dan memohon doa restu gurunya Syaikh Muhammad Abduh, untuk menjalankan amanah baru sebagai Qodhi (hakim) di negara Sudan.

Saat ditanya alasan tidak bolehnya menelaah kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali seorang diri, Syaikh Muhammad Abduh menyebut satu persatu Ulama dan Cendekiawan Muslim berikut dengan kelebihannya masing-masing, dari Ibnu Sina, al-Farabi, sampai Ibnu Rusyd.

"Lantas bagaimana kedudukan Abu Hamid al-Ghazali diantara Ulama dan Cendekiawan yang guru sebutkan tadi?" tanya al-Maraghi muda.

Syaikh Muhammad Abduh kemudian menjawab,

"Kelebihan-kelebihan yang ada dalam pada para Ulama dan Cendekiawan yang saya sebutkan tadi terkumpul pada sesosok Imam al-Ghazali (rojulun fii daairotil al-ma'arif)."

Syaikh Muhammad Abduh seolah ingin menegaskan, membaca karya seorang ulama ensiklopedis yang menguasai lintas disiplin ilmu sekaliber Imam al-Ghazali, harus dibarengi dengan wawasan keilmuan yang luas, atau menela'ah bersama-sama dengan satu kumpulan orang yang masing-masing pakar pada disiplin ilmu-ilmu tertentu.


(dinukil dan diterjemahkan dari buku kecil terbitan Majlis A'la Kementrian Wakaf Mesir, seharga satu pound)







Ust. Muhammad Rifqi Arriza

Al Madad fil Masyhad: Sebut Namaku, dan Berjalanlah di atas Air

Tidak dipungkiri bahwa keagungan Nabi SAW melebihi segalanya, termasuk keagungan para Anbiya’ sebelumnya dan para Auliya sesudahnya. Rasulullah adalah batangnya (ashl ) sedang mereka semua adalah cabang–cabangnya (far’u).

“Wakulluhum min Rasulillahi multamisun, ghorfan minal bahhri au rashfan minad diyami.

Mereka semua meneguk secakup air dari lautan kemuliaan Rasulullah. Atau mereka menyesap tetes–tetes air dari hujan kemuliyaannya,  Al Bushiriy.

Maka barangsiapa yang memperingati kemuliyaan para auliya, maka sejatinya mereka memperingati kemuliaan Rasulullah. Barangsiapa yang memuliakan para auliya maka sejatinya mereka memuliakan Rasulullah SAW.

Di dalam mukaddimah Jami’ Karomatil Auliya, Al Imam An Nabhaniy menjelaskan banyak hal tentang hal ini. Diantara yang beliau tulis di sana bahwa karomah para waliy adalah bagian dari mukjizat Nabi.

Dengan munculnya keramat–keramat itu, maka umat sesudah zaman kenabian menjadi faham dan meyakini bahwa para auliya itu ada dalam agama yang haq. Berarti pembawa risalah dalam agama yang mereka bela itu (yakni Rasulullah) adalah haq pula.

Semakin besar seseorang memuliakan atau memperingati para auliya maka maknanya semakin besar pula dia memuliakan dan memperingati nabinya. Seseorang yang bersemangat membaca manaqib atau memperingati Haul Syaikh Abdulqadir al Jilniy sebenarnya diapun sedang bersemangat dalam menghormati Baginda Nabi SAW.

Namun kemudian menjadi isykal jika pada saat yang sama dia ‘memandang remeh’ peringatan Nabi atau pembacaan maulid beliau. Contoh sederhana, jika dia membaca manaqib Syaikh dia akan menyembelih ayam jantan dan dibuat shadaqah. Tetapi saat membaca maulid Nabi dia hanya bersedekah krupuk.

Jika dia berbuat demikian karena dianggapnya maulid Nabi ‘cuma pantasnya’ dishadaqahi krupuk maka ini adalah perendahan rutbah Rasulullah SAW. Wal ‘iyadhu billah. Namun jika dia melakukannya disebabkan dominasi ‘rasa Syaikh’ di dalam hatinya maka hal seperti itu biasa saja.
Sebenarnya dia meyakini kemuliyaan Nabi jauh di atas kemuliyaan Syaikh. Namun di dalam hatinya pengaruh Syaikh telah memenuhi seluruh sisi-sisinya, fana’ itu menyebab kemuliaan yang lain tidak lagi terasa olehnya.

Saya kesulitan untuk memilih kalimat yang tepat di dalam permasalahan ini. Tetapi jika dapat di rumuskan lebih sederhana, mungkin saya akan memilih kalimat berikut ini:

“Didalam keyakinannya tetap mengetahui bahwa kemuliaan Nabi SAW ada diatas kemuliaan Waliy. Namun karena keterbatasan kemampuan hatinya dalam menangkap keagungan-keagungan, maka baru pada taraf kemuliaan Waliy saja yang bisa benar-benar dia rasakan, sehingga mengesankan dia terlihat begitu bersemangat di dalam memperingati Waliy melebihi semangat memperingati Nabi SAW“

Para hukama menyebut “AL MADAD FIL MASYHAD“ turunnya pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan kesiapan hati dan keyakinannya. Banyak kisah yang berhubungan dengan hal ini.
Seperti kisah seorang murid yang diperintahkan menyeberangi lautan oleh Syaikhnya dengan cara berjalan kaki di atasnya. Kata Syaikh:

“Wahai anakku, sebutkan namaku dan berjalanlah kamu di atas air menyeberangi laut.“
Murid tersebut menuruti perintah Syaikhnya. Begitu nama beliau ia sebut maka ia sanggup berjalan di atas air tanpa tenggelam. Namun mendadak dia dalam hatinya berfikir :

“Bagaimana aku ini? Bukankah Alloh Azza Wajalla yang lebih tepat untuk aku ucapkan? Karena Allah adalah Tuhan sedangkan Syaikh ku hanyalah seorang manusia?“

Begitu terbersit di dalam hatinya fikiran tersebut maka saat itu juga tubuhnya jatuh tenggelam ke dalam laut. Dia terjebak dalam ombak, dan tenggelam nyaris celaka. Sampai kemudian dia teringat Syaikhnya dan diapun berteriak–teriak memanggil nama Syaikhnya.

“Wahai guruku, wahai Fulan …!“ Teriaknya memanggil. Dan tak menunggu lama, muncul Sang Syaikh berjalan diatas laut dan mengulurkan tangan dan menolong dirinya.

“Sudah aku katakan, sebutkan namaku saja, jangan yang lain. Engkau itu hanya mengenal diriku melebihi kenalmu kepada Tuhanmu

Kisah ini memberi kefahaman bahwa bukan berarti Syaikh itu lebih mulia daripada Allah Ta’ala. 

Namun masyhad dalam hati murid tersebut hanya mengenal Syaikhnya dari pada Tuhannya, sehingga menyebut nama Syaikh bagi dia itu lebih bermanfaat dari pada menyebut nama Rabbnya.

Suatu saat Al Habib Abdurrahman bin Syaikh Al Athas berkata :
“Bagi diriku al Habib Hasan as Syathiriy itu lebih agung dibanding Syaikh Abdulqadir al Jaylaniy. Karena jika Syaikh Abdulqadir itu kemuliaannya bagiku hanya sebatas yang pernah aku baca saja dari buku–buku, namun Al Habib Hasan itu kemuliaannya bagiku langsung aku saksikan dengan kedua belah mataku.“

Kesimpulan terahir adalah Kemuliaan Nabi diatas Kemuliaan Waliy . Tetapi masyhad di dalam hati seseorang bisa jadi membuatnya lain. Bukan berarti merendahkan kemuliaan Nabi.







Wallahu a’lam

Ust. Muhajir Madad Salim

Kamis, 12 Februari 2015

Pembeli Khamr Yang Dishalati Khalifah

Ahli Maksiat?

Kisah berikut cukup populer. Dalam sebuah buku harian, Sultan Murad IV (1612-1640) berkisah tentang kekalutan hatinya di suatu malam. Rasa itu tidak tertahankan, sehingga dia merasa perlu memanggil kepala pengawal dan memberitahukan apa yang tengah dia rasakan.

“Mari kita keluar sejenak,” ajak Sultan yang diiyakan oleh kepala pengawal itu. Di antara kebiasaan Sultan adalah blusukan di malam hari dengan cara menyamar.


Mereka berdua lantas pergi, hingga tiba di sebuah lorong sempit. Tiba-tiba, ada mayat laki-laki tergeletak di tanah. Sultan memeriksa lelaki itu. Sudah meninggal. Heran, orang-orang yang melintas tidak ada yang peduli. Juga, tidak ada yang mengenali Sultan. Makanya, ketika Sultan memanggil orang-orang yang lalu lalang di situ, mereka malah balik bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”

Sultan menjawab, “Mengapa orang ini meninggal tetapi tidak satu pun dari kalian mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?”

Mereka berujar, “Ini orang zindik, suka menenggak minuman keras, dan berzina.”

Sultan menimpali, “Tetapi bukankah dia termasuk umat Muhammad? Ayo angkat jenazahnya, dan kita bawa ke rumahnya!”

Mereka manut. Suasana mengharukan segera terjadi ketika jenazah tiba di rumahnya. Melihat suami meninggal, istrinya langsung menangis. Tetapi, orang-orang yang membawa jenazah tadi bergegas pergi. Hanya tinggal Sultan dan kepala pengawalnya yang berada di situ.

Dalam suasana demikian, sambil menangis, wanita itu berucap kepada jenazah suaminya, “Semoga Allah merahmatimu, wahai wali Allah! Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang saleh.”

Sultan Murad kaget, dan berkata, “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang bilang tentang dia begini dan begitu, sampai mereka juga tidak peduli dengan kematiannya.”

Wanita itu segera menjawab, “Aku sudah menduga hal itu. Sungguh, suamiku setiap malam pergi ke penjual khamar. Dia lantas membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah dan menumpahkan seluruh khamar ke toilet, dan berkata, ‘Semoga aku dapat meringankan keburukan khamar dari kaum Muslimin’.”

“Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur, memberinya uang, dan berkata, ‘Malam ini kau kubayar dan jangan kau buka pintu rumahmu untuk melacur hingga pagi’. Kemudian suamiku kembali ke rumah, dan berujar, ‘Semoga dengan itu aku dapat meringankan keburukan pelacur dari pemuda-pemuda Muslim malam ini’.”

“Sebagian orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khamar, dan masuk rumah pelacur. Lantas, mereka membicarakan suamiku dengan keburukan. Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku, ‘Seandainya engkau mati, tidak akan ada orang yang bersedia memandikanmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu’. Suamiku tersenyum, lalu menjawab, ‘Jangan khawatir, Sayangku! Pemimpin kaum Muslimin yang akan menshalatkanku beserta para ulama dan pembesar negeri lainnya’.”

Tiba-tiba mata Sultan basah. Dia menangis. “Suamimu benar. Demi Allah aku adalah Sultan Murad Ar-Rabi, Sultan Turki Utsmani. Dan, besok kami akan memandikan suamimu, menshalatkannya, dan menguburkannya.”

Maha Suci Allah! Betapa sering kita menilai orang hanya dengan melihat penampilan luarnya, bahkan sekadar dari omongan orang. Sendainya kita mampu bersikap bijak dengan memandang dan menilai orang lain dari kebersihan hatinya, niscaya lisan kita akan kelu dari menceritakan keburukan orang lain.

Kepada Allah jua kita harapkan bimbingan dan pertolongan.







M. Husnaini

Saya Akan Menulis Burdah

Saat itu saya sedang ziarah ke Madinah, tepatnya di makam Rasulullah. Ketika saya keluar lewat pintu Jibril, ada suara salah seorang yang memanggilku dan ia mencoba berbicara kepadaku dan berceritera bahwa ia bermimpi bertemu Rasulullah dan beliau memberi kabar kepada orang tersebut bahwa saya akan menulis qashidah untuk beliau. Ia berbicara sungguh-sungguh. “Sumpah,” ucapnya untuk meyakinkanku

Kulanjutkan langkah serta membawa husnudzan kepada orang yang membawa kabar tadi. Hal senada terualang kembali, tepatnya saat saya tiba di Kairo. Saya bertemu dengan seseorang yang juga menceritakan mimpinya bertemu Rasulullah. Apa yang ia ceritakan kepadaku persis mimpi orang yang saya temui di Madinah. Yaitu, saya hendak menulis burdah untuk Rasulullah.

Dari mimpi orang yang berulang kali dan dengan mimpi yang sama tersebut. Saya membatin, “Sesuatu yang berulang-ulang, tidak memberi saya alasan kecuali saya memang harus menulis burdah seperti yang orang-orang ceritakan dari mimpinya itu,”

Ketika ada kesempatan menunaikan ibadah haji, kota yang saya tuju pertama kali adalah Madinah, kota suci tempat Rasulullah singgah. Dalam haji kali ini akan saya tunaikan mimpi tersebut dengan mulai menulis burdah. Dan kelak saat tiba, waktu akan saya habiskan lebih banyak di Madinah. Di tempat seseorang yang akan saya tulis burdah tentangnya.

Di pesawat, saya memulai menulis mukadimah dari burdah tersebut.

"Cahaya mataku terbit di Dzi Salam
O, Juru Mudi, lekas sampaikanlah aku ke Haram

Hati tergesa-gesa ingin menemui sebaik-baiknya seluruh makhluk
Tempat cahaya, tauhid dan kemulyaan tumbuh

Cintanya menghulu-hilir dalam darahku
Dan ingatannya hidup dalam hati dan di atas mulutku"

Saat pesawat landing dan saya turun dari pesawat, saya mendapati mobil dan orang penting yang nampak dari pakaiannya. Ia bertanya, “dimana Dr. Ahmad Umar Hasyim?”

“Iya, ini saya,” jawabku.

“Anda dalam jemputan sebagai tamu Khadim Haramain,” katanya.

Saya bingung, padahal saya berangkat haji bersama rombongan dan atas biaya sendiri. Kok ini tiba-tiba ada mobil dan petugas menjemput yang katanya saya datang atas undangan.

“Loh, ini saya bersama rombongan,” jawabku beralasan.

“Anda dan rombongan menjadi tamu Khadim Haramain,”

Padahal, sebelumnya saya tidak memberi tahu siapapun, baik kepada penanggung jawab maupun petugas haji setempat kalau tahun ini saya berangkat haji. Akan tetapi saya mengerti dan yakin bahwa hal ini salah satunya berkat ‘Nahjul Burdah’ yang saya tulis dan kesinambungnya cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.



Dr. Ahmad Umar Hasyim. Anggota Dewan Senior al-Azhar yang dijuluki sebagai ‘Amirul Mu’minin Fil Hadis’

Rabu, 11 Februari 2015

Berdebatlah Dengan Singa Kebun Binatang

Ada yang bilang: "Wahai orang-orang cerdas, jangan berdebat dengan orang bodoh, karena orang-orang lain kebingungan membedakan yang mana sesungguhnya yang bodoh. Bisa-bisa banyak orang keliru menilai dirimulah yang bodoh."

Kutipan di atas itu benar, sayangnya di kalangan orang-orang bodoh tersebar juga nasehat senanda: "Wahai orang-orang yang bodoh, jangan berdebat dengan sesama orang bodoh, akan tampak jelas bahwa kalian sama-sama bodoh. Berdebatlah dengan orang cerdas, maka kamu bisa jadi dianggap cerdas juga jika orang cerdas itu mau melayani debatmu."

Nah, rupanya nasehat kedua inilah yang paling laku. Lihatlah di media-media yang sering dipertontonkan kepada kita, mereka yang tidak punya keahlian dimunculkan ke publik sementara mereka yang memiliki keahlian dibiarkan "duduk manis" dalam makna tidak diberikan kesempatan.

Pelawak dan penyanyi sudah menjadi penceramah, sementara kiai dan ustadz yang alim "dipaksa" menjadi pendengarnya. Akan lebih parah lagi jika kiai dan ustadz itu beralih profesi menjadi pelawak dan penyanyi ya. Saya ingat kata-kata almarhum KH. Zainuddin MZ: "Singa itu tempatnya di hutan. Maka ia menjadi raja hutan yang berwibawa dan titahnya menjadi tuntunan. Ketika singa berpindah tempat ke kebun binatang, ia tak lagi menjadi raja hutan, melainkan menjani tontonan lucu."

Dunia kita memang dunia unik. Hanya yang sadar dan waspada yang tetap berjalan di atas nilai kewajaran, kepantasan dan kebenaran.






Salam, AIM

Minggu, 12 Mei 2013

Kedua Kakiku Berada Di Atas Pundak Para Wali


SENANTIASA MENATA HATI

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di usia mudanya adalah seorang yang sangat jenius, cerdas dan gemar menuntut ilmu. Beliau mempunyai dua orang sahabat yaitu Ibnu as-Saqa dan Abu Said Abdullah ibnu Abi Usrun, keduanya juga dikenal sebagai sosok yang cerdas.

Suatu saat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani beserta kedua temannya itu sepakat untuk mengunjungi seorang wali Allah yang bernama Syaikh Yusuf al-Hamdani (440H-535H, beliau adalah Abu Ya’qub Yusuf ibn Ayyub ibn Yusuf ibn al-Husain al-Hamdani murid dari Syaikh Abu ‘Ali al-Farmidhi murid dari Imam al-Ghazali), yang dikenal sebagai al-Ghauts (seorang ahli ibadah yang shaleh, wali Allah yang tinggal di pinggir kota) namun beliau dikunjungi banyak orang.

Sebelum berangkat, Ibn as-Saqa dan Ibn Abi Usrun berdiskusi mengenai niat atau maksud dari ziarah yang ingin mereka lakukan. Ibn as-Saqa berkata: “Aku akan menanyakan persoalan yang susah agar ia bingung dan tidak bisa menjawabnya.”

Kemudian Ibn Abi Usrun juga berkata: “Aku akan ajukan pertanyaan ilmiah, dan aku ingin melihat apakah yang ingin beliau katakan.”

Akan tetapi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani hanya diam membisu. Maka bertanyalah Ibn as-Saqa dan Ibn Abi Usrun kepada beliau: “Bagaimana pula dengan engkau, wahai Abdul Qadir?”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Aku berlindung dengan Allah dari mempertanyakan permasalahan yang sedemikian. Aku hanya ingin ziarah untuk mengambil berkah darinya.”

Kemudian berangkatlah ketiganya menuju rumah Syaikh Yusuf al-Hamdani al-Ghauts. Setelah dipersilahkan masuk oleh al-Ghaus, beliau meninggalkan mereka beberapa saat.

Setelah menunggu agak lama, barulah Syaikh Yusuf al-Hamdani al-Ghauts keluar dengan pakaian kewaliannya untuk menemui mereka dan berkata: “Wahai Ibn as-Saqa, kamu berkunjung ke mari untuk mengujiku dengan permasalahan demikian, jawabnya adalah demikian (Syaikh Yusuf al-Hamdani menjelaskan jawabannya beserta dengan nama kitab yang dapat dijadikan rujukan). Ia kemudian berkata kepada Ibnu as-Saqa: “Keluarlah kamu! Aku melihat api kekufuran menyala-nyala di antara tulang-tulang rusukmu.”

“Sedangkan kamu, ya Ibnu Abi Usrun, kamu ke mari dengan tujuan menanyakan permasalahan ilmiah, jawabnya adalah demikian. (Syaikh Yusuf al-Hamdani lalu menjelaskan jawabannya berserta nama kitab yang membahas persoalan itu). Keluarlah kamu! Aku melihat dunia mengejar-ngejar kamu.”

Kemudian Syaikh Yusuf al-Hamdani al-Ghauts melihat kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, lantas berkata: “Wahai anakku Abdul Qadir, engkau diridhai Allah dan RasulNya dengan adabmu yang baik. Aku melihat engkau kelak akan mendapat kedudukan di Baghdad dan memberi petunjuk kepada manusia. Apa yang kamu inginkan insya Allah akan tercapai. Aku melihat bahwa kamu nanti akan berkata: “Kedua kakiku ini berada di atas pundak setiap para wali.”

Mereka bertiga kemudian keluar dari rumah al-Ghauts.

Beberapa tahun kemudian, Ibnu as-Saqa diperintahkan raja untuk berdebat dengan pemuka agama Nasrani. Perdebatan ini atas permintaan Raja Nasrani. Penduduk negeri telah sepakat bahwa mereka sebaiknya diwakili oleh Ibn as-Saqa. Dialah orang yang paling cerdas dan alim di antara kita, kata mereka.

Maka berangkatlah Ibn as-Saqa untuk berdebat dengan pemuka agama Nasrani. Sesampainya Ibnu as-Saqa di negeri kaum Nasrani, dia terpikat dengan seorang wanita pada pandangan pertamanya. Lalu dia menghadap ayah si wanita untuk meminangnya. Ayah perempuan itu menolak, melainkan jika Ibn as-Saqa terlebih dahulu memeluk agama mereka (Nasrani). Dia pun dengan serta merta menyatakan persetujuan dan memeluk agama mereka, menjadi seorang Nasrani.

Sedangkan Ibnu Abi Usrun, dia ditugaskan Raja Sultan ash-Shaleh Nuruddin asy-Syahid, untuk menangani urusan wakaf dan sedekah. Akan tetapi kilauan dunia selalu datang menggodanya dari berbagai penjuru hingga akhirnya ia jatuh dalam pelukannya.

Adapun Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, kedudukannya terus menjulang tinggi di sisi Allah juga di sisi manusia sehingga sampai suatu hari beliau berkata: “Kedua kakiku ini berada di atas leher setiap wali.” Suara beliau didengar dan dipatuhi oleh seluruh wali ketika itu. Bahkan hingga mencapai maqam/ kedudukan peringkat tertinggi sebagai Sulthanul Auliya di masanya.

(Al-Kawakib ad-Duriyyah ‘ala al-Hadaiq al-Wardiyyah fi Ajlaa’ as-Saadat an-Naqsyabandiyah karya Syaikh Abdul Majid bin Muhammad bin Muhammad al-Khani asy-Syafi’i).






Kucing Mengantarkan Jenazah


* Kisah Jenazah Diikuti Banyak Kucing**

Bercerita Habib Munzir Al Musawa: Terjadi beberapa waktu yang silam saat itu saya masih di Tarim, Hadramaut. Tinggal beberapa lama di kota syihir, wilayah.. Mukalla disitu ada seorang wanita tua wafat, suatu hari saya melihat jenazah diusung. Tapi ada 1 hal yang ganjil. Apa yang ganjil? Ketika jenazahnya diusung, banyak orang yang mengusungnya dan ratusan ekor kucing ikut mengantarkan jenazah. Ini ganjil, saya fikir ada jenazah diikuti ratusan ekor kucing dan baru ini saya melihatnya. Ketika saya bertanya – tanya, kenapa ini? Mereka memuji wanita tua yang wafat itu alaiha rahmatullah. Di masa hidupnya nafkahnya dicukupi oleh anak – anaknya, kerjanya tiap pagi masuk ke pasar mengambil bekas kepala – kepala ikan yang terbuang dan ditaruh di sebuah gerobak dan ia melemparnya kepada semua kucing yang ada di jalanan. Bertahun – tahun itu terjadi sampai setiap pagi, ratusan kucing sudah berjajar di jalanan menunggu bagian yang diberikan dari wanita tua itu. Ketika ia wafat, ratusan ekor kucing itu mengantarkan jenazahnya. Berhari – hari puluhan ekor kucing tidak meninggalkan kuburnya.

Demikian hadirin – hadirat, Allah jadikan Ibrah (contoh) bahwa setiap hewan itu mempunyai perasaan terimakasih kepada yang memberinya. Bagaimana aku dan kalian yang selalu diberi oleh Allah, adakah perasaan terimakasih terlintas untuk selalu berbakti kepada Allah.




Minggu, 05 Mei 2013

Bertawasul Selama 41 Hari


- Berguru Dalam Mimpi -

Pada waktu Syeikh Kholil masih muda, ada seorang Kiai yang terkenal di daerah Wilungan, Pasuruan bernama Abu Darrin. Kealimannya tidak hanya terbatas di lingkungan Pasuruan, tetapi sudah menyebar ke berbagai daerah lain, termasuk Madura. Kholil muda yang mendengar ada ulama yang mumpuni itu, terbetik di hatinya ingin menimba ilmunya. Setelah segala perbekalan dipersiapkan, maka berangkatlah Kholil muda ke pesantren Abu Darrin dengan harapan dapat segera bertemu dengan ulama yang dikagumi itu.Tetapi alangkah sedihnya ketika dia sampai di Pesantren Wilungan, ternyata Kiai Abu Darrin telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Hatinya dirundung duka dengan kepergian Kiai Abu Darrin.

Namun karena tekad belajarnya sangat menggelora maka Kholil segera sowan ke makam Kiai Abu Darrin. Setibanya di makam Abu Darrin, Kholil lalu mengucapkan salam lalu berkata: bagaimana saya ini Kiai, saya masih ingin berguru pada Kiai, tetapi Kiai sudah meninggal desah Kholil sambil menangis. Kholil lalu mengambil sebuah mushaf Al Quran. Kemudian bertawassul dengan membaca Al Quran terus menerus sampai 41 hari lamanya. Pada hari ke-41 tiba-tiba datanglah Kiai Abu Darrin dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Kiai Abu Darrin mengajarkan beberapa ilmunya kepada Kholil. Setelah dia bangun dari tidurnya, lalu Kholil serta merta dapat menghafal kitab Imriti, Kitab Asmuni dan Alfiyah.

- Syaikhona Kholil Bangkalan -





Maliki Yaumiddin atau Maaliki Yaumiddin


- SAMBUTAN SYAIKHONA KHOLIL KEPADA TAMUNYA -

Suatu ketika, Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik temu. Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi Keramat; Kiyahi Khalil Bangkalan.

Ketika itu Kiyahi yg jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu sedang duduk di dalam mushala, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyahi Khalil berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil Bangkalan menyambut kedatangan Habib Jindan.

Tentu saja dengan ucapan selamat datang yg aneh itu, sang Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin itu.

Demikian cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan perbedaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari.








Cerita Karomah al Habib Mundzir bin Fuad al Musawa


Cerita Karomah (Kemuliaan) Guru Mulia Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

1. Al-Habib Munzir al-Musawa Tidak Memiliki Rumah

Seseorang pernah bertanya kepada Habib Munzir: “Wahai Habib, bukankah Rasul Saw. juga punya rumah walau sederhana?”
Beliau Habib Munzir tertegun dan menangis, beliau berkata: “Iya betul, tapi kan Rasul Saw. juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum Anshar, lalu bersama-sama membangun rumah, saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yang masih berumahkan koran di pinggir jalan dan digusur-gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang-tenang di rumah saya.”

2. Perjumpaan Al-Habib Munzir dengan Wali Besar Tarim

Seorang wali besar Tarim, salah satu guru al-Habib Umar bin Hafidz yang bernama al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur, saat al-Habib Munzir datang menjumpainya, maka al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur yang ketika itu usianya sudah tua renta langsung menangis dan berkata: “Wahai Muhammad…! (Saw.)”
Maka al-Habib Munzir berkata: “Saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.”
Lalu al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur berkata: “Engkau Muhammad Saw.!, Engkau Muhammad Saw.!”
Maka al-Habib Munzir diam. Kemudian saat al-Habib Umar bin Hafidz datang maka segera al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur berkata: “Wahai Umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa)”
Al-Habib Umar bin Hafidz pun hanya tersenyum mendengarnya.

3. Kesaksian Seorang Ibu dari Australia Jama’ah Majelis Rasulullah Saw.

Kita saksikan, ke manapun al-Habib Munzir pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta. Bahkan sampai ke pedalaman Irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yang sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yang sudah masuk Islam di tangan al-Habib Munzir, banyak orang bermimpi Rasul Saw. selalu hadir di majelisnya.
Dikisahkan bahwa ada seorang ibu-ibu dari Australia yang selalu mimpi jumpa Rasulullah Saw. Ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul Saw. entah kenapa. Namun ketika ia hadir di Majelis al-Habib Munzir tepatnya yaitu saat Majelis Rasulullah Saw. Digelar di Masjid Almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah Saw.
Maka si ibu itu berkata: ”Sungguh Habib yang satu ini adalah Syeikh Futuhku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar-benar dicintai oleh Rasulullah Saw.”
Lalu kabar tersebut disampaikan kepada al-Habib Munzir, dan beliau hanya menunduk malu.

4. Al-Habib Munzir Saat Diminta Mendoakan Al-Habib Umar Maulakhela

Ketika banyak orang yang meminta supaya al-Habib Umar Maulakhela didoakan agar sembuh dari sakitnya, maka beliau al-Habib Munzir dengan tenang menjawab: “Al-Habib Novel bin Jindan yang akan wafat, dan al-Habib Umar Maulakhela masih panjang usianya.”
Benar saja, keesokan harinya al-Habib Novel bin Jindan wafat, dan al-Habib Umar Maulakhela sembuh dan keluar dari opname.

5. Al-Habib Munzir Saat Diminta Mendoakan Al-Habib Anis Al-Habsyi

Ketika al-Habib Anis al-Habsyi Solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang-orang mendesak al-Habib Munzir untuk menyambangi dan mendoakan al-Habib Anis, maka beliau berkata pada orang-orang dekatnya bahwa al-Habib Anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira-kira masih sebulan lagi usia beliau.
Betul saja, al-Habib Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat.

6. Kejadian Hendak Meletusnya Gunung Papandayan

Ketika Gunung Papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “Awas”, maka al-Habib Munzir dengan santai berangkat ke sana.
Sesampainya ke ujung kawah, al-Habib Munzir berdoa dan melemparkan jubahnya ke kawah. Sesaat kemudian kawah itu reda hingga kini. Kejadian ini sudah bertahun-tahun yang lalu sekitar 8 tahunan dan VCD/ -dokumentasinya disimpan di markas Majelis Rasulullah Saw. namun beliau al-Habib Munzir melarang untuk disebarkan.

7. Kisah Sang Dukun Beji Depok 1

Ketika al-Habib Munzir masuk ke wilayah Beji Depok, yang terkenal dengan sihir dan para dukun jahatnya, malam itu al-Habib Munzir mengadakan acara Maulid Nabi Saw.
Keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitia acara tersebut dan berkata: “Saya ingin jumpa dengan Tuan Guru yang semalam buat Maulid di sini..!”
Orang-orang yang melihat dan mendengarnya menjadi kaget, karena dia terkenal dukun jahat dan tak pernah shalat serta tak mau dekat dengan ulama pun juga sangat ditakuti.
Ketika ditanya kenapa, dukun itu menjawab: “Saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap, lalu Shubuh tadi saya lihat mereka (para Jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban dan sudah masuk Islam. Ketika kutanya kenapa kalian masuk Islam dan jadi begini?, maka Jin-jin ku menjawab: “Apakah juragan tidak tahu? Semalam ada Kanjeng Rasulullah Saw. hadir di acara al-Habib Munzir, kami masuk Islam karenanya.”

8. Kisah Sang Dukun Beji Depok 2

Seorang dukun di Beji Depok yang mempunyai dua ekor macan jadi-jadian yang dipergunakan untuk menjaga rumahnya. Malam itu macan jejadiannya hilang, kemudian ia mencarinya. Ia menemukan kedua macan jadi-jadiannya itu sedang duduk bersimpuh di depan pintu masjid mendengarkan ceramah al-Habib Munzir.

9. Gangguan Jahat Menyerang Murid-murid Al-Habib Munzir

Saat berapa murid al-Habib Munzir berangkat ke Kuningan Jawa Barat, daerah yang terkenal ahli santet dan jago sihirnya, maka al-Habib Munzir menepuk bahu muridnya dan berkata: “Ma’annabiy...! -, berangkatlah, Rasul Saw. bersama kalian.”
Maka saat mereka membaca maulid, tiba-tiba terjadi angin ribut yang mengguncang rumah itu dengan dahsyat, lalu mereka meminta kepada Allah perlindungan, dan teringat al-Habib Munzir dalam hatinya. Tiba-tiba angin ribut tersebut reda, dan mereka semua mencium aroma minyak wangi yang biasa dipakai al-Habib Munzir yang seakan lewat di hadapan mereka. Dan terdengar pula ledakan bola-bola api di luar rumah yang tak bisa masuk ke rumah itu.
Ketika mereka pulang dan diceritakan semua kejadian tersebut kepada al-Habib Munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu.


10. Saat Al-Habib Munzir Berdakwah di Bali

Saat al-Habib Munzir berkunjung ke Bali dan hendak menginap di salah satu hotel, berkatalah muslimin di sana: “Habib, semua hotel penuh, kami tempatkan Habib di tempat yang dekat dengan kediaman Raja Leak (Raja Dukun Leak di Bali).”
Maka al-Habib Munzir membalasnya dengan senyuman pertanda setuju.
Keesokan harinya Raja Leak itu, yang terkenal sangat jarang keluar dari dalam rumahnya, siang itu dia keluar dari sarangnya seraya berkata: “Saya mencium wangi Raja dari Pulau Jawa ada di sekitar sini semalam.”

11. Sikap Al-Habib Munzir Terhadap Pencacinya

Dulu saat ramai-ramainya berita tentang Ahmadiyyah muncul, al-Habib Munzir dicaci-maki oleh seseorang dengan sebutan Munzir Ghulam Ahmad!, dengan alasan al-Habib Munzir tidak mau ikut demo anti Ahmadiyah.
Al-Habib Munzir tetap senyum dan bersabar dalam menanggapinya, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dengan kedamaian daripada kekerasan. Dan al-Habib Munzir sudah memaafkan si pencaci itu sebelum orang itu meminta maaf padanya. Bahkan al-Habib Munzir saat itu menginstruksika -n agar jamaahnya jangan ada yang mengganggu si pencaci yang disebut-sebut sebagai Da’i itu.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya saat Majelis Rasulullah Saw. digelar di masjid Almakmur Tebet, al-Habib Munzir malah duduk berdampingan dengan si pencaci itu. Al-Habib Munzir tetap ramah dan sesekali bercanda dengan Da’i yang pernah mencacinya sebagai murtad dan pengikut Ahmadiyah.


Alhasil masih sangat banyak kisah-kisah kemuliaan Guru Mulia al-Habib Munzir al-Musawa. Semoga dari yang secuil ini bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita, mampu kita teladani akhlak luhur beliau sebagaimana yang pernah dicontohkan juga oleh Kakek beliau Rasulullah Saw. Dan semoga Allah Swt. Memanjangkan usia beliau Guru Mulia al-Habib Munzir al-Musawa dalam keadaan sehat wal ‘afiyat. Aamiin aamiin yaa Mujiibassaailii -n.


Ditulis ulang dari berbagai sumber oleh: Ustadz kami, Sya’roni As-Samfuriy, 03 Rabi’ul Awwal 1434 H

Karomah Habib Luthfi dan Orang Patah Tulang


Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Mundzir al-Musawa

Kisah tentang sebuah niat yang mengalahkan logika ilmiah. Kisah nyata Muhammad Syamsuri, beliau adalah Anggota Helm aktif (Grup Helm MR yaitu aktivis Majelis Rasulullah saw yang bertugas mengatur lalu lintas dan menghimbau Jama’ah Majelis Rasulullah saw agar mematuhi peraturan lalu lintas dan menggunakan helm bagi pengendara motor, serta mengatur kelancaran lalu lintas ketika ada pengajian Majelis Rasulullah saw.)

Kisah ini dialami oleh saudara kita, namanya Muhammad Syamsuri. Beberapa waktu lalu beliau kecelakaan mobil di Tol Cipularang dan mengalami retak tulang kaki sehingga harus menggunakan kursi roda. Dokter sudah angkat tangan. Namun Syam tidak putus asa. Ia pergi ke Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan untuk minta doa. Syam ini adalah murid Habib Luthfi.

Pertama kali bertemu, Habib Luthfi bertanya kepada Syam tentang niatnya jika kakinya sembuh. Syam menjawab bahwa ia ingin kembali kerja di Jakarta. Spontan Habib Luthfi menjawab bahwa ia tidak mungkin sembuh seumur hidup, harus memakai kursi roda. Syam dan keluarganya menangis mendengar kabar itu. Setelah itu Habib Luthfi pun pergi dan membiarkan Syam selama 3 minggu di rumahnya.

Selama waktu itu Syam hanya bengong dan meratapi nasibnya. Hingga suatu malam Syam bermimpi didatangi Habib Munzir al Musawa yang lantas rebahan di samping Syam dan memberikan lembar jadwal majlis MR sambil berbisik,"Bilang Habib Luthfi bahwa kamu ikut saya di Jakarta".

Pagi harinya Syam lantas menemui Habib Luthfi dan berkata bahwa ia di Jakarta membantu dakwah Habib Munzir dengan mengatur lalu lintas. Mendengar hal itu Habib Luthfi kaget dan lantas bertanya apa yang menyebabkan dia berubah niat? Syam lantas menceritakan mimpinya. Habib Lutfi kemudian memeluk Syam dan berkata,"Kamu besok sembuh. Pulang ke Jakarta berkah". Habib Luthfi kemudian mengusap kaki Syam dengan air beberapa kali.

Malam harinya yaitu Senin malam bertepatan dengan majlis rutin MR di Al Munawar minggu lalu, jam 21.00 kaki Syam sudah bisa digerakkan dan bisa untuk berjalan. Akhirnya Syam bisa berjalan seperti sebelumnya dan kini Syam sudah kembali membantu dakwah Habib Munzir dengan aktif membantu mengatur lalu lintas di Al Munawar.

Karomah dua orang wali dan niat yang lurus mengalahkan logika ilmiah medis yang sudah mengatakan tidak akan sembuh. Subhanallah








Karomah Habib Ali bin Ja'far al-Aydrus


Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia.

Al-Habib Mundzir al-Musawa sering berkunjung pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus manakala beliau sedang berada di Malaysia. Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus sangat gembira jikalau ada al-Habib Mundzir datang.

Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu tersenyum gembira. Sesaat kemudian al-Habib Munzdir meminta doa dari beliau, maka beliau pun berdoa untuknya. Biasanya al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu menolak untuk berdoa kecuali tamunya yang mesti berdoa, namun permintaan kali ini tak ditolak oleh beliau seraya mengangkat kedua tangannya setinggi-tinggi nya hingga ke atas kepala. Kedua telapak tangannya dipadukan, dan wajah beliau menunduk. Suara rintih keluar dari bibirnya tak bisa dipastikan apa yang diucapkannya. Benar-benar gerakan doa yangg menggambarkan posisi yang sedang sangat mengemis pada Dzat Yang Maha Luhur. Belum pernah al-Habib Mundzir melihat seseorang yang berdoa dengan posisi sekhusyu’ dan seperti ini dalam merendahkan dirinya pada Allah Swt.

Setelah itu al-Habib Mundzir pamitan seraya berkata lembut: “Saya pamit wahai Habib...”

Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus menunduk dan berkata dengan lembut pula: “Tidak makan dulu kah?”

Al-Habib Mundzir menjawab: “Saya pamit jika habib ridho.”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun berdiri dan mengizinkan kepergian al-Habib Mundzir, lalu terbersit dalam hati al-Habib Mundzir: “Aku terbebani hutang sangat besar karena masalah perluasan dakwah di Indonesia, mudah-mudahan kedatanganku ke sini bisa membuat Allah menyelesaikan masalah hutang-hutangku , beban beratku ini kutumpahkan pada al-Habib Ali, semoga Allah Swt. meringankanku”, demikian renungan al-Habib Mundzir saat itu sambil melangkah keluar dari kediaman beliau.

Saat itu al-Habib Mundzir tidak sendiri, ada beberapa orang yang bersamanya. Mereka berkata: “Kami sering kunjung ke sini, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus mau berdoa kecuali saat kamu yang memintanya, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus izinkan kami pamitan di waktu makan kecuali saat kamu yang minta izin pulang.”

Dan salah satu diantara mereka adalah seorang pengusaha yang sukses. Maka ketika al-Habib Mundzir beserta rombongan sudah keluar rumah, al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus memanggil orang itu dan membisikinya sesuatu, lalu beliau masuk ke dalam rumah.

Orang tersebut mendatangi al-Habib Mundzir dan berkata: “Habib Ali berkata pada saya, kamu punya hutang dakwah yang besar dan berat yang harus dibayarkan. Saya diperintah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus untuk melunasi semua hutangmu.”

Al-Habib Mundzir kaget dan berpaling pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus, namun beliau sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Sabtu, 27 April 2013

Kota Tarim Yaman


KALAM ULAMA BERKENAAN YAMAN (TARIM)

"Andai saja mereka melihat hakikat kota Tarim, maka mereka akan mengatakan, "Syurga dunia adalah Tarim" (al Imam Ahmad bin Abil Hubb)

"Setetes ilmu di Tarim lebih baik dari pada lautan ilmu di luar Tarim"
(al Imam Abdurrahman as Segaf)

"Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada yang kau keluarkan"
(al Imam Abdullah al Haddad)

"Di maqbaroh Zanbal dimakamkan lebih dari 10000 wali, 80 diantaranya adalah qutbh (tingkatan wali tertinggi)" (al Imam Abdurrahman as Segaf),

jumlah ini sekitar 600 tahun lalu, sebelum wafatnya Imam as Segaf, al Aidrus, Imam al Muhdor, Imam al Haddad, mungkin sekarang jumlah aulia' di Zanbal sudah mencapai ratusan ribu (kesimpulannya katsir jiddan), di Zanbal juga terdapat makam makam sahabat Nabi yaitu ahlu badr,

"Ahlu Tarim bukan malaikat tapi mereka lebih baik dari malaikat"
(al Imam Ali al Habsyi)

"3 hal yang diperlukan mereka yang tinggal di Tarim :
tawadhu', adab, dan hidup sederhana''
(al Imam Ahmad bin Hasan al Atthos)

"Siapa yang tetap dengan adab dan akhlak di Tarim, maka Tarim akan menjadikannya bintang, bulan, a tau bahkan matahari yang menerangi manusia dengan ilmu dan nurnya"
(al Imam Alwi bin Syihab)

"Tidak ada tempat di dunia ini yang lebih baik dari Tarim setelah al masajid ats tsalatsah (Makkah, Madinah, Aqsha)"
(al Imam Abdullah al Haddad)




Berdoa di Makam Ma'ruf al Karkhi


Imam Ibrahim al Harbi adalah seorang ulama yang semasa dengan Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang ahli hadits bahkan juga seorang mujtahid. Beliau adalah salah seorang yang direkomendasikan oleh Imam Ahmad agar anaknya berguru kepadanya.
Source Image
Dan Imam Al Buhuti Al Hambali mengutip perkataan Imam Ibrohim Al Harbi ini dalam kitabnya yang berjudul "Kasy-syaful-Qina' 2/69" sebagai berikut:

”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ”

"berkata Ibrohim Al Harbi: BERDOA DI MAKAM MA:RUF AL KARKHI ADALAH PENGOBATAN YANG MUJARAB"

Dan disebutkan pula dalam kitab Tarikh Baghdad 1/22 hal yang sama sebagai berikut:

أخبرنا إسماعيل بن أحمد الحيري قال أنبأنا محمد بن الحسين السلمي قال سمعت أبا الحسن بن مقسم يقول سمعت أبا علي الصفار يقول سمعت إبراهيم الحربي يقول قبر معروف الترياق المجرب

Gak usah diterjemahkan, sama kok isinya, cuma bedanya dengan sanad lengkap. dan dalam Imam Al Dzahabi juga menyebutkan hal yang sama dalam kitabnya Sayru A'lamin Nubala 9/343 dengan tidak menyebutkan sanadnya, tapi dalam kitab yang sama 17/539 menyebutkannya dan sama jalur periwayatannya.

Namun melihat fakta para Imam meriwayatkan atau mengatakan seperti ini, mereka yang suka menuduh para peziarah dan tawassul dengan tuduhan penyembah kubur, membuat bantahan bantahan yang sama sekali tidak mencerminkan argumen yang kukuh dan dipercaya.

Rabu, 17 April 2013

Menulis Hadits di Tangan

'SESUATU' Imam Syafi'i

Saat pertama kali Imam Syafi'i datang ke Madinah dan mengikuti majlisnya Imam Malik, tanpa pena dan buku karena beliau adalah santri miskin.

Ketika itu Imam Malik meng-imla' 18 buah hadits dari kitab Muwattho'. Di saat santri-santri yang lain menulis, Imam Malik menyaksikan Imam Syafi'i menuliskan jari telunjuk pada punggung tangannya.
Source Image : salim-majidgt.blogspot.com

Setelah majlis selesai, Imam Malik memanggil Imam Syafi'i dan menanyakan asal usul dan nasabnya. Beliau juga bertanya mengapa ia bermain main dengan jari tangannya saat mengaji.

Imam Syafi'i menjawab:

"Aku tidak bermain-main, wahai guru, tetapi setiap hadits yang engkau imla'kan aku tulis di punggung tanganku. Jika engkau berkenan aku akan menghafal hadits-hadits yang telah engkau imla'kan".  18 hadits itupun dihafal oleh Imam Syafi'i di luar kepala.

Imam Malik kemudian mendekatinya, dan berkata:

يا محمد اتق الله فإنه سيكون لك شأن

"Takutlah kamu pada Allah, sesungguhnya kamu akan memiliki 'SESUATU'"


(Almanhaj Assawi, Habib Zein Bin Sumaith)