Tampilkan postingan dengan label Humor Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Sufi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Bacaan Alquran di samping Kubur

Mengenai Hadis di dalam Kitab Sahih Bukhariy :

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الاخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ , قَالُوا يَا رَسُولُ الله لِمَ فَعَلْتَ هَذَا ؟ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْبَسَا (صحيح البخارى, رقم 209)

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, suatu hari Nabi SAW berjalan melewati dua pemakaman. Kemudian beliau bersabda, kedua orang yang berada dalam kuburan ini sekarang sedang disiksa. Namun keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia kencing dan tidak menutup auratnya. Dan yang lain disiksa karena suka mengadu domba. Lalu Nabi SAW mengambil pelapah kurma dan membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkanya diatas kubur masing-masing. Para shahabat bertanya, mengapa engkau melakukan hal tersebut ? Nabi SAW menjawab, semoga keduanya mendapatkan keringanan siksa selama pelepah kurma ini belum kering.”

Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam Kitab Fathul Bariy menjelaskan :

فتح الباري - ابن حجر - (ج 1 / ص 320)
أن المعنى فيه أنه يسبح ما دام رطبا فيحصل التخفيف ببركة التسبيح وعلى هذا فيطرد في كل ما فيه رطوبة من الأشجار وغيرها وكذلك فيما فيه بركة كالذكر وتلاوة القرآن من باب الأولى

Makna yang terkandung di dalamnya (mengenai peletakan pelepah daun kurma di atas kuburan) yaitu bahwasanya pelepah daun kurma tersebut akan membaca tasbih terus selama masih basah (belum kering), maka hal tersebut bisa menghasilkan keringanan (siksa bagi mayyit di bawahnya) dengan sebab barokah tasbih (dari pelepah kurma tersebut Mengenai permasalahan ini, maka berlaku pula ketentuannya terhadap semua pohon-pohon dan lain-lain yang memang terdapat barokahnya seperti DZIKIR, sedang PEMBACAAN AL QURAN MAKA TENTU SAJA LEBIH UTAMA LAGI.

Sabtu, 21 Februari 2015

Apakah Kamu Mengingkari Sunnah

Melaksanakan sunnah harus sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan. Sekarang banyak yang semangat melakukan sunnah tapi tidak mengetahui kapan waktu yang tepat untuknya. Modal semangat tanpa didasari dengan keilmuan.
Syekh Muhammad al-Ghazali (1917-1996)
Saya ingat cerita Syekh Muhammad al-Ghazali. Suatu ketika beliau menyampaikan kuliah. Duduklah salah satu murid tepat didepan beliau duduk. Murid itu setiap waktu bersiwak. Ia terus menggerakkan siwak dimulutnya, kekanan kekiri dan terus menerus. Sesekali ia biarkan siwak itu menempel dimulutnya, lalu ia kembali bersiwak dan menggeraknya dengan tangan kekanan dan kekiri.

Syekh merasa terganggu konsentrasinya. Gerakannya terlalu sering hingga mengganggu fokus.

"Nak, tolong sudahi siwakanmu itu. Kamu mengganggu konsentrasi saya," kata syekh kepada murid tersebut.

"Hai, syekh! ini sunnah nabi. Apakah kamu mengingkari sunnah?" jawabnya dengan suara meninggi semangat.

Syekh diam dan terkejut atas jawaban tadi.

"Nak, mencabut bulu ketiak itu juga sunnah, apakah kamu akan mencabutinya di majelis ini juga?"

Seisi ruangan tertawa. Ia akhirnya malu.

Ini akibat dia kurang wawasan akan sunnah. Tidak melihat waktu dan tempat. Keadaannya bagaimana.

Ilmu adalah dasar dalam melaksanakan sunnah dengan baik.


-Habib Ali al-Jufri

Jumat, 31 Mei 2013

Anehnya Perkataan Orang

Jiwo dan Tejo

Di desa, saya punya dua teman. Yang satu Jiwo namanya, lainnya Tejo. Nasib mereka berbeda. Posisi mereka tidak sama. Cara orang banyak memandang dan menilai mereka juga unik.

Misalnya dalam pergaulan. Kalau Jiwo terlihat di warung, duduk di sisi seseorang yang dikenal suka maling, maka orang menyebut Jiwo adalah temannya maling, punya rancangan kolusi untuk maling, dengan kata lain Jiwo dianggap juga seorang maling. Contoh lain kalau Jiwo pada suatu siang tampak diboncengkan oleh sepeda motor Pak Lurah, maka orang menganggap Jiwo sudah direkrut oleh Pak Lurah, sudah berkongkalikong dengan Pak Lurah, sudah berkhianat kepada sebagian penduduk yang kebetulan pernah disusahkan hidupnya oleh Pak Lurah.

Adapun nasib Tejo berbeda. Kalau ia akrab dengan maling, orang menyimpulkan itu adalah taktik untuk menginsafkan maling. Kalau Tejo jalan runtang-runtung dengan tukang renten, itu adalah bagian dari strategi makro politik perekonomian Tejo. Kalau Tejo pagi hari bercengkerama dengan buruh-buruh di gardu, sorenya dijamu di rumah Pak Lurah — orang menyimpulkan Tejo adalah seorang yang kosmopolit, seorang demokrat sejati dan arif, yang mau bergaul dengan siapa saja.

Ada kemungkinan, jika kelak Jiwo masuk sorga, orang akan menyebut itu adalah penyelundupan, atau sekurang-kurangnya Jiwo telah menyogok agar bisa masuk sorga. Sedangkan kalau Tejo masuk neraka, itu adalah strategi untuk menghindari sikap takabur bahwa ia sesungguhnya berhak masuk sorga. Juga Tejo sengaja menemani orang-orang menderita di neraka.





Cak Nun

Minggu, 05 Mei 2013

Ngajinya Sampai Dimana Tadi ?

- Gus Dur dan Kiai Khudori Naik Selinder Saat Ngaji -

Alkisah, Abdurrohman Wahid alias Gus Dur ketika masih remaja dipondokkan ke Ulama teman ayahnya, KH Abdul Fattah, Tambakberas, Jombang. Mengingat Gus Dur adalah putra temannya sendiri yang juga seorang Ulama, Kiai Fattah mulang ngaji secara khusus kepada Gus Dur. Tidak dikumpulkan dengan santri-santri yang lain.

Agar Gus Dur tidak sendirian, maka dipanggillah seorang santri lain yang sebaya Gus Dur bernama Khudhori.

Tibalah saatnya mengajar Gus Dur dan Khudhori. Yang namanya Ulama besar, Kiai Fattah pastilah sudah sangat sibuk sekali. Sehingga tiba saatnya mengajar Gus Dur sudah kelelahan. Acapkali di tengah-tengah mengajar Kiai Fattah tertidur pulas. Dua bocah di depannya hanya bisa bengong menunggu gurunya yang tengah tertidur.

Saat itulah ada selinder lewat di depan pondok.

“Ayo naik selinder itu!” Ajak Gus Dur tiba-tiba pada Khudhori, setelah tahu gurunya tertidur pulas saat mengajar.

Mereka segera menghambur keluar dan naik selinder yang berjalan bak bekicot itu. Walaupun jalannya lambat, mereka sampai juga di Mojoagung, kampung sebelah. Merasa sudah jauh, mereka turun dan kembali pulang ke pondok.

Sampai di pondok,didapati -nya Kiai Fattah masih tertidur. Namun tidak lama kemudian terbangun.

“Sampai di mana tadi?” tanya Kiai bermaksud menanyakan halaman kitab kuning yang akan diajarkan.

”Sampai di Mojoagung, Yi...!!!” Spontan Khudhori menjawab.

Kiai Fattah: ”?????......”

Gus Dur :"Hahahahaha..... -"gusdur hanya tertawa ngakak.

Belakangan Gus Dur dan Khudhori menjadi Ulama besar di zamannya.


( Diceritakan oleh KH Yahya Cholil Staquf ) 






Rabu, 17 April 2013

Awas Buaya Darat

A tourist asks a boat man "Do you know biology, psychology, geology and criminology?"

The boatman said NO to all of the questions.

Tourist said "what the hell you know ,mmh? you will die illiterate!".

After a while the boat started sinking, the tourist started panicking and the boatman asked the tourist. "do you know swimology and escapelogy form crocodiology?"
Source Image : agahumor.blogspot.com

The tourist said NO!

Boatman then said:"well, u'll drownology as crocodilogy will eat your assology and you will dieology because of your bigmouthology.

( ¬(••)¬)"


Berusaha menjauhi sifat merendahkan dan menyepelekan orang lain. Semua yang diciptakan Tuhan juga dibekali kemampuannya masing-masing dan tentunya seringkali berbeda.